MATERI AKHLAK
Jawab:
1) Karena akhlak Islam adalah sebab adanya cinta Allah Ta'ala.
Disebutkan dalam hadis: "Hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah Ta'ala adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Hakim dan Ṭabarāniy)
2) Ia merupakan sebab meraih cinta manusia.
3) Ia merupakan amalan yang pahalanya paling berat pada timbangan amal.
Disebutkan dalam hadis: "Sesuatu (amalan) yang paling berat (pahalanya) pada timbangan hari Kiamat adalah akhlak baik." (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
4) Pelipatgandaan pahala dan ganjaran dengan sebab akhlak baik.
Disebutkan dalam hadis: "Sungguh, seorang mukmin dapat meraih derajat orang yang salat sepanjang malam dan berpuasa sepanjang siang dengan akhlak baiknya." (HR. Ahmad)
5) Akhlak yang mulia merupakan tanda kesempurnaan iman.
- Disebutkan dalam hadis: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
Jawab:
Ihsan adalah selalu merasa diawasi oleh Allah, serta mencurahkan kebaikan dan perbuatan baik kepada seluruh makhluk.
Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menetapkan perbuatan baik (ihsan) atas segala sesuatu." [HR. Muslim].
Di antara bentuk perbuatan Ihsan (berbuat baik) adalah:
- Ihsan dalam beribadah kepada Allah Ta'ala, yaitu dengan menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya.
- Berbuat baik kepada orang tua dengan perkataan maupun perbuatan.
- Berbuat baik kepada sanak famili dan kerabat.
- Berbuat baik kepada tetangga.
- Berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin.
- Berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.
- Ihsan dalam berdebat.
- Bersikap baik dalam berucap.
- Berbuat baik kepada hewan.
Jawab:
Lawan dari perilaku ihsan adalah berbuat buruk. Di antara contohnya:
- Tidak ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta'ala.
- Durhaka kepada kedua orang tua.
- Memutus tali silaturahmi.
- Berakhlak buruk dalam bertetangga.
- Tidak berbuat baik kepada orang fakir dan miskin, serta berbagai sikap buruk lainnya dalam perkataan maupun perbuatan.
Jawab:
1) Amanah dalam menjaga hak-hak Allah Ta'ala.
Di antara bentuknya adalah menjaga amanah dalam menunaikan ibadah, seperti: salat, zakat, puasa, haji dan ibadah lain yang telah Allah wajibkan kepada kita.
2) Amanah dalam menjaga hak-hak sesama makhluk, seperti:
- menjaga kehormatan orang lain
- menjaga harta mereka
- menjaga darah mereka
- menjaga rahasia mereka, dan semua yang diamanahkan oleh orang lain kepadamu.
Allah Ta'ala berfirman ketika menyebutkan sifat-sifat orang yang beruntung, "Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya." [QS. Al-Mu`minūn: 8]
Jawab:
Khianat, yaitu mengabaikan hak-hak Allah Ta'ala dan hak-hak manusia.
- Allah Ta'ālā berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui." [QS. Al-Anfāl: 27]
- Nabi ﷺ bersabda, "Tanda orang munafik itu ada tiga", di antaranya beliau menyebutkan: "Ketika diberi amanah, ia berkhianat." [Muttafaq 'Alaih].
Jawab:
Jujur ialah menyampaikan berita sesuai dengan fakta atau mengabarkan sesuatu sesuai dengan kondisinya.
Di antara bentuknya adalah:
- Jujur dalam berbicara dengan orang lain.
- Jujur dalam berjanji.
- Jujur di setiap perkataan dan perbuatan.
- Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur." [Muttafaq 'Alaih].
Jawab:
Berdusta, yaitu menyelisihi informasi yang sebenarnya. Di antara bentuknya: berdusta kepada manusia, tidak menepati janji, serta kesaksian palsu.
- Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang suka berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." [Muttafaq 'Alaih].
Nabi ﷺ juga bersabda, "Tanda orang munafik itu ada tiga", di antaranya beliau menyebutkan: "Jika berkata, ia berdusta; dan jika berjanji, ia tidak menepati." [Muttafaq 'Alaih].
Jawab:
1) Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Ta'ala.
2- Sabar untuk meninggalkan maksiat.
3- Sabar dalam menerima ketentuan Allah yang tidak disukai, sembari tetap memuji Allah dalam setiap kondisi.
- Allah Ta'ala berfirman, "Allah mencintai orang-orang yang sabar." [QS. Āli 'Imrān: 146]
- Nabi ﷺ bersabda, "Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada diri seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur, itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar, itu pun baik baginya." [HR. Muslim].
Jawab:
Lawannya adalah tidak sabar dalam menjalankan ketaatan, tidak sabar ketika meninggalkan kemaksiatan, dan marah terhadap ketentuan Allah dengan perkataan ataupun perbuatan.
Di antara beberapa contohnya:
- Berharap mati.
Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah sekali-kali kalian mengharapkan kematian lantaran satu keburukan yang menimpanya. Jika ia harus melakukannya, hendaklah ia mengucapkan, 'Ya Allah, panjangkanlah hidupku selama kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku bila kematian itu lebih baik bagiku.'" (Muttafaq 'alaih)
- Memukul pipi.
- Merobek pakaian.
- Mengacak-acak rambut.
- Mendoakan keburukan terhadap diri sendiri.
Nabi ﷺ bersabda, "Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek pakaian, dan berteriak dengan seruan jahiliah (saat terkena musibah)." (HR. Bukhari)
Nabi ﷺ juga bersabda, "Sesungguhnya besarnya balasan sesuai dengan besarnya ujian. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida, maka baginya keridaan Allah. Sebaliknya, siapa yang marah, maka baginya kemurkaan Allah." [HR. Tirmizi dan Ibnu Majah].
Jawab:
Yaitu saling tolong-menolong antar sesama manusia di atas kebenaran dan kebaikan.
Di antara bentuk saling tolong-menolong:
- Tolong-menolong dalam mengembalikan hak.
- Tolong-menolong dalam mencegah orang yang berbuat zalim.
- Tolong-menolong dalam memenuhi hajat manusia dan orang miskin.
- Tolong-menolong di atas setiap kebaikan.
- Tidak Tolong-menolong di atas perbuatan dosa, menyakiti, dan kezaliman.
Allah Ta'ala berfirman, "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya." [QS. Al-Mā`idah: 2]
Nabi ﷺ bersabda, "Permisalan seorang mukmin dengan mukmin yang lain itu seperti bangunan yang menguatkan satu sama lain." [Muttafaq 'Alaih].
Nabi ﷺ juga bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti. Barang siapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan dari seorang muslim, maka Allah menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat." [Muttafaq 'Alaih].
Jawab:
1) Malu kepada Allah, yaitu dengan tidak berbuat maksiat kepada-Nya.
2) Malu kepada manusia, di antaranya: meninggalkan perkataan kotor dan jorok serta selalu menutup aurat.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Iman itu ada tujuh puluhan cabang -atau- enam puluhan cabang. Yang paling utama adalah perkataan Lā ilāha illallāh dan yang paling ringan adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu itu termasuk bagian dari iman." [HR. Muslim].
Jawab:
- Sayang kepada orang yang lebih tua serta memuliakan mereka.
- Sayang kepada orang yang lebih muda dan anak-anak. Disebutkan dalam hadis: "Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang tua di antara kita dan tidak menyayangi yang kecil." (HR. Ahmad)
- Sayang kepada orang fakir, miskin dan orang yang membutuhkan.
- Sayang kepada hewan, yaitu dengan memberikan makanan kepadanya dan tidak menyakitinya.
Di antranya adalah sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi ﷺ: "Orang-orang mukmin dalam hal saling menyayangi, mencintai, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." [Muttafaq 'Alaih].
Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahmān (Allah). Maka sayangilah penduduk bumi, niscaya Tuhan yang di atas langit pun akan menyayangi kalian." [HR. Abu Daud dan Tirmizi].
Jawab:
- Mencintai Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala berfirman, "Orang-orang yang beriman amat sangat mencintai Allah." [QS. Al-Baqarah: 165]
- Mencintai Rasulullah ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda, "Demi (Allah) yang jiwaku berada di tangan-Nya, salah seorang di antara kalian tidak akan (sempurna) imannya sampai aku lebih dia cintai dari pada anaknya, orang tuanya, bahkan seluruh manusia." [HR. Al-Bukhari].
- Mencintai orang-orang mukmin dan mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana Anda mencintai diri Anda sendiri.
Nabi ﷺ bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sehingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." [HR. Al-Bukhari].
Jawab:
Maksudnya adalah berwajah ceria disertai sikap senang, senyum, lembut, dan menampakkan kegembiraan ketika bertemu orang.
Lawan kata dari sifat ini adalah cemberut ketika bertatap muka dengan seseorang, yang menjadikan mereka menjauh.
Terdapat beberapa hadis tentang keutamaan menampakkan wajah ceria. Abu Żarr meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda kepadaku, "Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya ketika bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri!" [HR. Muslim].
Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Senyumanmu di hadapan saudaramu itu menjadi nilai sedekah untukmu." [HR. Tirmizi].
Jawab:
Dengki atau hasad adalah mengharapkan hilangnya suatu nikmat dari orang lain atau membenci suatu nikmat ada pada orang lain.
- Allah Ta'ala berfirman, "... dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki." [QS. Al-Falaq: 6]
- Anas bin Malik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda, "Janganlah kalian saling benci, janganlah kalian saling hasad (mendengki), janganlah saling membelakangi (mendiamkan). Jadilah hamba Allah yang bersaudara." [HR. Bukhari dan Muslim].
Jawab:
Menghina adalah mengejek saudaramu sesama muslim serta merendahkannya. Perbuatan ini hukumnya tidak boleh.
Allah Ta'ala berfirman tentang larangan menghina seseorang, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Juga jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." [QS. Al-Ḥujurāt: 11]
Jawab:
Tawaduk adalah ketika seseorang tidak memandang dirinya di atas orang lain, tidak memandang rendah orang lain, dan tidak menolak kebenaran.
- Allah Ta'ala berfirman, "Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati." [QS. Al-Furqān: 63] Maksudnya, mereka itu adalah orang-orang yang tawaduk.
- Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah seseorang tawaduk karena Allah kecuali akan dia diangkat oleh Allah." [HR. Muslim].
- Beliau ﷺ juga bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala telah memberikan wahyu kepadaku: 'Hendaklah kalian bersikap tawaduk (rendah hati)', sehingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang lain dan tidak ada yang menzalimi yang lain." [HR. Muslim].
Jawab:
1) Menyombongkan diri terhadap kebenaran, yaitu menolak kebenaran dan tidak menerimanya.
2) Menyombongkan diri terhadap manusia, yaitu merendahkan dan menghina mereka.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walaupun sebesar biji sawi." Seorang lelaki bertanya, "Sesungguhnya ada orang yang senang jika pakaiannya bagus dan sandalnya pun bagus." Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan mencintai keindahan. Kesombongan itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia." [HR. Muslim].
- Menolak kebenaran, dalam arti enggan menerimanya.
- Merendahkan manusia, yakni menganggap mereka hina.
- Pakaian dan sandal yang bagus bukan termasuk bentuk kesombongan.
Jawab:
- Curang dalam jual beli, yaitu menyembunyikan cacat barang dagangan.
- Kecurangan dalam menuntut ilmu, semisal menyontek dalam ujian.
- Kecurangan dalam ucapan, seperti persaksian palsu dan dusta.
- Tidak menepati janji yang telah diucapkan dan tidak pula menunaikan kesepakatan antara dirinya dengan orang lain.
Dalil tentang larangan curang adalah hadis: bahwa Rasulullah ﷺ melewati setumpuk makanan yang dijual, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam makanan tersebut. Ternyata tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, sehingga beliau bertanya, "Apa ini, wahai pemilik makanan?" Dia menjawab, "Ditimpa hujan, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Tidakkah engkau meletakkannya di bagian atas makanan itu supaya orang lain dapat melihatnya? Siapa yang berbuat curang, maka dia bukan dari golonganku." [HR. Muslim].
Tumpukan bermakna timbunan makanan.
Jawab:
Gibah (menggunjing) adalah menyebutkan sesuatu yang dibenci oleh saudaramu sesama muslim saat ia tidak ada.
Allah Ta'ala berfirman, "Janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Ḥujurāt: 12]
Jawab:
Yaitu merasa berat untuk melakukan kebaikan atau apa yang wajib dilakukan.
Salah satu contohnya adalah merasa malas ketika mengerjakan apa yang diwajibkan oleh Allah.
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allahlah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia." [QS. An-Nisā`: 142]
Seorang mukmin hendaknya meninggalkan rasa malas, kurang bersemangat, serta tidak punya gairah. Ia harus bersemangat dalam bekerja dan bergerak, serta bersungguh-sungguh dan memiliki tekad kuat dalam kehidupan ini guna untuk mendapatkan rida Allah Ta'ala.
Jawab:
1) Marah yang terpuji, yaitu marah yang diniatkan karena Allah di saat orang-orang kafir, munafik, atau yang semisal dengan mereka melanggar apa yang diharamkan oleh Allah.
2) Marah yang tercela, yaitu marah yang menyebabkan seseorang melakukan dan mengucapkan sesuatu yang tidak seharusnya.
Obat untuk marah yang tercela:
- Berwudu.
- Duduk jika ia sedang berdiri, dan berbaring jika ia sedang duduk.
- Melaksanakan wasiat Nabi ﷺ dalam hal itu: "Jangan marah!"
- Menahan diri agar tidak tersulut emosi ketika marah.
- Memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.
- Diam.
Jawab:
Memata-matai (tajassus) adalah menyingkap dan mencari aib manusia dan apa yang mereka sembunyikan.
Di antara bentuk memata-matai seseorang yang diharamkan:
- Mengamati kekurangan manusia yang ada di dalam rumah.
- Mendengarkan pembicaraan manusia tanpa mereka ketahui.
Allah Ta'ala berfirman, "Janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain." [QS. Al-Ḥujurāt: 12]
Jawab:
Makna boros adalah membelanjakan harta tidak pada tempatnya. Kebalikannya pelit, yaitu menahan hak harta.
Sikap yang benar adalah pertengahan antara keduanya, dan agar seorang muslim bersikap dermawan.
Allah Ta'ala berfirman, "Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak boros dan tidak (pula) kikir, tetapi di antara keduanya secara wajar." [QS. Al-Furqān: 67]
Jawab:
Sikap pengecut adalah takut terhadap sesuatu yang tidak sepatutnya ditakuti.
Misalnya: Takut menyuarakan kebenaran dan mengingkari kemungkaran.
Adapun keberanian adalah lantang dalam menyuarakan kebenaran. Salah satu contohnya adalah berani di medan jihad demi membela Islam dan kaum muslimin.
- Nabi ﷺ berkata di dalam doanya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari sifat pengecut ..."
- Rasulullah ﷺ bersabda, "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan." [HR. Muslim].
Jawab:
- Melaknat dan mencela.
- Ucapan seseorang kepada orang lain dengan sebutan "hewan" atau lafaz yang semisal.
- Menyebut aib seseorang dengan menggunakan kata-kata buruk dan jorok.
Nabi ﷺ telah melarang hal ini semua. Beliau bersabda, "Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaknya), dan bukan pula orang yang jorok omongannya." [HR. Tirmizi dan Ibnu Hibban].
Jawab:
1- Berdoa agar Allah mengaruniakan kepadamu akhlak yang baik serta menolongmu untuk itu.
2- Selalu merasa diawasi Allah ﷻ, bahwa Dia senantiasa mengetahui, mendengar, dan melihatmu.
3- Mengingat pahala akhlak baik, yaitu merupakan sebab masuk surga.
4- Mengingat akibat positif dari akhlak yang buruk, yaitu merupakan sebab masuk neraka.
5- Akhlak yang mulia dapat menjadikan seseorang dicintai Allah dan dicintai oleh para makhluk-Nya. Sebaliknya, akhlak yang buruk dapat menyebabkan seseorang dibenci oleh Allah serta dibenci oleh seluruh makhluk-Nya.
6- Membaca sirah Nabi ﷺ dan senantiasa mengamalkan ajarannya.
7- Berteman dengan orang-orang saleh serta menjauhi pertemanan dengan orang-orang jahat.
*******
Zikir yang paling utama adalah yang sejalan antara hati dan lisan.