MATERI ADAB ISLAM
Jawab:
1) Mengagungkan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-. Allah Ta'ala berfirman, "Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka sekutukan." [QS. Az-Zumar: 67]
2) Beribadah hanya kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama." [QS. Al-Bayyinah: 5]
3) Taat kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah." [QS. Muḥammad: 33]
4) Meninggalkan kemaksiatan kepada Allah. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan." [QS. An-Nisā`: 14]
5) Bersyukur dan memuji Allah ﷻ atas karunia dan nikmat-Nya yang tidak terhitung jumlahnya. Allah Ta'ala berfirman, "Syukurilah nikmat Allah jika kalian hanya menyembah kepada-Nya." [QS. An-Naḥl: 114]
6) Bersabar atas ketetapan Allah. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." [QS. Al-Anfāl: 46]
Jawab:
1) Mengikuti dan meneladannya. Allah Ta'ala berfirman, "Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." [QS. Al-Aḥzāb: 21]
2) Menaatinya.
3) Tidak bermaksiat kepadanya. Allah Ta'ala berfirman, "Siapa yang menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Sebaliknya, siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka." [QS. An-Nisā`: 80]
4) Membenarkan semua yang beliau beritakan. Allah Ta'ala berfirman, "Tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur`an) menurut keinginannya. Tidak lain ia adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." [QS. An-Najm: 3-4]
5) Tidak membuat perkara baru (terkait agama) di luar ajaran beliau. Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Bukhari-Muslim)
6) Mencintai beliau melebihi kecintaan kepada diri sendiri dan seluruh manusia. Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia" (HR. Bukhari-Muslim)
7) Mengagungkan beliau serta membela beliau dan Sunnah beliau. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman, "Hendaklah kalian semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkannya, dan memuliakannya." [QS. Al-Fatḥ: 9]
Jawab:
1) Taat kepada kedua orang tua pada selain kemaksiatan.
2) Melayani kedua orang tua.
3) Membantu kedua orang tua.
4) Memenuhi kebutuhan hidup kedua orang tua.
5) Mendoakan kedua orang tua.
6) Menjaga tutur kata bersama mereka; tidak diperkenankan mengucapkan "ah" meskipun ia adalah ucapan ketidaksukaan yang paling ringan.
7) Selalu tersenyum di hadapan kedua orang tua dan tidak menampakkan wajah cemberut.
8) Tidak mengangkat suara melebihi suara orang tua, senantiasa mendengarkan nasihatnya, tidak memotong pembicaraannya, serta tidak memanggil namanya, namun selalu memanggilnya dengan panggilan "Abī" (Ayahku) dan "Ummī" (Ibuku).
9) Selalu meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar ayah dan ibu saat mereka berdua berada di dalamnya.
10) Mencium tangan dan kening kedua orang tua.
• AllahTa'ala berfirman, "Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.'" [QS. Al-Isrā`: 23-24]
• Diriwayatkan dalam hadis bahwa seseorang datang kepada Nabi ﷺ untuk meminta izin ikut berjihad, maka beliau bertanya, "Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?" Dia menjawab, "Ya." Beliau bersabda, "Berjihadlah pada keduanya." (HR. Tirmizi)
Jawab:
1) Mengunjungi kerabat, seperti saudara laki-laki dan perempuan, paman dan bibi dari ayah dan ibu, dan seluruh kerabat lainnya.
2) Berbuat baik kepada kerabat, baik dengan tutur kata yang lembut, perangai yang mulia, maupun dengan membantu mereka.
3) Menghubungi mereka dan selalu menanyakan keadaan mereka.
• AllahTa'ala berfirman, "Apakah sekiranya kalian berkuasa, kalian malah akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" [QS. Muḥammad: 22]
• Sedangkan dalam hadis: "Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi." (HR. Muslim)
Jawab:
1) Saya mencintai serta bergaul dengan orang-orang yang baik.
2) Saya menjauhi dan meninggalkan kawan-kawan yang buruk (jahat). Disebutkan dalam hadis: "Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu selain orang yang bertakwa!" (HR. Tirmizi dan Abu Daud)
3) Saya selalu mengucapkan salam kepada teman-teman saya dan menyalami mereka. Disebutkan dalam hadis: "Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan, kecuali akan diampuni dosa mereka berdua sebelum keduanya berpisah." (HR. Abu Daud dan Tirmizi)
4) Saya menjenguk mereka di kala sakit serta mendoakan mereka agar diberi kesembuhan.
5) Saya mendoakan mereka di saat bersin.
6) Saya menghadiri undangannya bila dia mengundang saya untuk berkunjung. Disebutkan dalam hadis: "Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin." (HR. Bukhari-Muslim)
7) Saya memberinya nasihat. Disebutkan dalam hadis: "Siapa yang memberikan saudaranya suatu arahan padahal dia mengetahui kebaikan ada pada yang lainnya, maka dia telah mengkhianatinya." (HR. Abu Daud)
8) Saya membelanya bila ia dizalimi, serta mencegahnya dari perbuatan zalim (kepada orang lain). Rasulullah ﷺ bersabda, "Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zalim atau dizalimi." Lantas seorang laki-laki bertanya, "Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia dizalimi. Namun, bagaimana pendapat Anda jika ia adalah pelaku kezaliman, bagaimanakah caraku menolongnya?" Beliau menjawab, "Hendaklah engkau menghalanginya -atau: mencegahnya- dari kezaliman itu. Demikianlah cara menolongnya." (HR. Bukhari)
9) Saya mencintai bagi saudara sesama muslim apa yang saya cintai untuk diri sendiri. Disebutkan dalam hadis, bahwa Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Tidak sempurna iman salah seorang kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya." (HR. Bukhari-Muslim)
10) Saya membantunya bila ia membutuhkan bantuan saya. Disebutkan dalam hadis: "Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim)
11) Saya tidak menyakitinya dengan ucapan maupun perbuatan. Disebutkan dalam hadis: "Seorang muslim itu adalah orang yang kaum muslimin selamat dari (keburukan) lisan dan tangannya." (HR. Bukhari-Muslim)
12) Saya menjaga rahasianya. Disebutkan dalam hadis: "Apabila seseorang menyampaikan suatu perkataan lalu ia menoleh, maka perkataan itu adalah amanah." (HR. Tirmizi dan Abu Daud)
13) Saya tidak mencelanya, menggibahnya, merendahkannya, atau mendengkinya, serta tidak memata-matai dan menipunya.
Disebutkan dalam hadis: "Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak meninggalkannya, dan tidak merendahkannya. Cukuplah seseorang itu berbuat buruk kala ia menghina saudaranya seislam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jawab:
1) Selalu berbuat baik kepada tetangga dengan ucapan maupun perbuatan, serta senantiasa membantunya bila ia membutuhkan bantuan.
2) Mengucapkan selamat untuknya bila ia sedang merayakan kebahagiaan di waktu id (hari raya), pernikahan, atau momentum yang lain.
3) Menjenguknya di kala ia sakit serta mengucapkan bela sungkawa di saat ia ditimpa musibah.
4) Menyuguhinya makanan yang dibuat sendiri sebisa mungkin.
5) Tidak menyakitinya, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
6- Saya tidak mengganggunya dengan suara yang tinggi dan tidak pula memata-matainya serta selalu bersabar dalam bergaul dengannya.
- Allah Ta'ala berfirman, "Sembahlah Allah, janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri." [QS. An-Nisā`: 36]
- Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai Abu Żarr, apabila kamu memasak lauk berkuah, maka perbanyaklah kuahnya, lalu berikanlah kepada tetanggamu." (HR. Muslim)
Diriwayatkan di dalam hadis Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jawab:
1) Memenuhi undangan orang yang mengajak untuk bertamu.
2) Bila ingin mengunjungi seseorang, hendaknya meminta izin terlebih dahulu dan menanyakan waktunya yang tepat.
3) Meminta izin terlebih dahulu sebelum masuk.
4) Tidak terlambat ketika berkunjung.
5) Menundukkan pandangan terhadap penghuni rumah.
6) Menyambut tamu dan menerimanya sebaik mungkin dengan wajah yang ceria dan ungkapan penyambutan yang paling bagus.
7) Mempersilakan tamu untuk duduk di tempat yang paling nyaman.
8) Memuliakan tamu dengan jamuan makanan dan minuman.
- Allah Ta'ala berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kalian (selalu) ingat." [QS. An-Nūr: 27]
Disebutkan dalam hadis: "Sungguh, meminta izin itu disyariatkan hanyalah untuk menjaga pandangan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Juga sabda beliau ﷺ, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jawab:
1) Saat merasakan sakit, saya meletakkan tangan kanan di atas bagian yang sakit sembari membaca doa: "Bismillāh" sebanyak tiga kali. Lalu membaca doa berikut sebanyak 7 kali:
"A'ūżu bi 'izzatillāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥāżir" Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari kejelekan yang aku dapatkan dan aku waspadai."
2) Selalu rida dengan seluruh ketentuan Allah dan sabar dalam menghadapinya. Disebutkan dalam hadis Ummul-'Alā` -raḍiyallāhu 'anhā-, ia mengisahkan: Rasulullah ﷺ menjengukku saat sakit, lalu beliau bersabda, "Terimalah kabar gembira, wahai Ummul-'Alā`! Sesungguhnya Allah akan menggugurkan kesalahan seorang muslim dengan sakit yang menimpanya sebagaimana api menghilangkan kotoran emas dan perak." (HR. Abu Daud)
3) Bersegera menjenguk saudara yang sakit, mendoakannya, serta tidak berlama-lama duduk bersamanya.
4) Membacakan ruqyah kepadanya meskipun ia tidak memintanya.
5) Mewasiatkan padanya untuk selalu bersabar, berdoa, menjaga salat, dan bersuci sesuai kemampuannya.
6) Membaca doa khusus untuk orang yang sakit: "As`alullāhal-'aẓīma rabbal-'arsyil-'aẓīmi an yasyfiyaka"
Artinya: "Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan pemilik Arasy yang besar, agar memberikan kesembuhan kepadamu." Doa ini dibaca sebanyak tujuh kali.
Jawab:
1- Mengikhlaskan niat karena Allah ﷻ. Disebutkan dalam hadis: "Siapa yang menuntut ilmu dengan tujuan menandingi para ulama, mendebat orang-orang bodoh, dan mengalihkan wajah manusia pada dirinya, niscaya Allah akan memasukkannya ke neraka Jahanam." (HR. Ibnu Majah)
2) Saya mengamalkan ilmu yang telah saya pelajari. Disebutkan dalam hadis: "Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari Kiamat kelak hingga ditanya tentang empat perkara. -Beliau menyebutkan di antaranya-: Tentang ilmunya, apa yang telah ia amalkan?" (HR. Tirmizi dan ad-Dārimiy)
3) Saya selalu menghormati guru dan memuliakannya, baik di hadapannya ataupun di belakangnya.
4) Saya duduk di hadapannya dengan sopan.
5) Saya mendengarkannya dengan baik dan tidak memotongnya saat dia menyampaikan pelajaran.
6) Saya selalu menjaga etika saat mengajukan pertanyaan.
7) Saya tidak memanggil guru dengan menyebut namanya.
Disebutkan dalam hadis: "Sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah Ta'ala ialah menghormati orang muslim yang tua dan pembawa Al-Qur`an." (HR. Abu Daud)
Jawab:
1) Saya mengucapkan salam kepada orang yang hadir di majelis.
2) Saya duduk di tempat yang masih kosong (barisan terakhir), tidak menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya, dan tidak pula masuk duduk di antara dua orang kecuali dengan izin keduanya.
3) Saya melapangkan tempat duduk agar orang lain dapat ikut duduk.
4) Saya tidak memotong pembicaraan dalam majelis.
5) Saya meminta izin terlebih dahulu sebelum beranjak meninggalkan majelis serta mengucapkan salam.
Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan dari Nabi ﷺ: "Nabi ﷺ melarang seseorang dibangunkan dari tempat duduknya lalu orang lain yang duduk di sana. Akan tetapi lapangkanlah dan luaskanlah." (HR. Bukhari)
Disebutkan dalam hadis: "Apabila salah seorang kalian sampai di satu majelis, hendaklah ia mengucapkan salam. Lalu apabila ia hendak bangun (meninggalkan majelis), hendaklah ia juga mengucapkan salam, karena tidaklah (salam) yang pertama lebih pantas (diucapkan) daripada yang terakhir." (HR. Tirmizi dan Abu Daud)
6) Ketika majelis sudah berakhir, membaca doa kaffāratul-majlis, yaitu: "Subḥānakallāhumma wa bi ḥamdika asyhadu an lā ilāha illā anta astagfiruka wa atūbu ilaika."
(Artinya: Mahasuci Engkau, Ya Allah, dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang hak selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku bertobat kepada-Mu).
Jawab:
1) Saya tidur lebih awal. Hal ini berdasarkan hadis: Abu Barzah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ membenci tidur sebelum Isya serta berbincang-bincang setelahnya. (HR. Bukhari)
2) Saya tidur dalam keadaan sudah berwudu.
3) Saya tidak tidur dengan posisi tengkurap.
4) Saya tidur di atas sisi kanan badan dan meletakkan tangan kanan di bawah pipi sebelah kanan.
5) Saya mengibaskan tempat tidur sebelum berbaring.
- Disebutkan dalam hadis: Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda, "Apabila engkau hendak beranjak ke tempat tidur, maka berwudulah seperti wudumu untuk salat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kanan tubuhmu." (HR. Bukhari)
- Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- menuturkan: Rasulullah ﷺ melihat seseorang tidur tengkurap di atas perutnya, maka beliau bersabda, "Ini adalah cara tidur yang tidak disukai oleh Allah." (HR. Tirmizi dan Ahmad)
- Nabi ﷺ juga bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian hendak berbaring di tempat tidurnya, hendaklah ia mengibaskan tempat tidurnya dengan ujung bagian dalam sarungnya, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya setelah ditinggalkannya." (HR. Bukhari)
6) Saya membaca zikir sebelum tidur.
Di antaranya: Ayat Kursi, Surah Al-Ikhlāṣ, dan Al-Mu'awwiżatain (Surah Al-Falaq dan Surah An-Nās) sebanyak tiga kali. Lalu membaca doa: "Bismika allāhumma amūtu wa aḥyā" (Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup).
7) Saya bangun untuk menunaikan salat Subuh.
8) Saya membaca doa setelah bangun tidur: "Alḥamdulillāhillażī aḥyānā ba'da mā amātanā wa ilaihin nusyūr"
(Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku dan mematikanku dan hanya kepada-Nyalah kita dikembalikan).
1) Saya meniatkan makan dan minum untuk mendapatkan kekuatan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ.
2) Mencuci tangan sebelum makan.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Dahulu, Rasulullah ﷺ ketika akan makan dan minum, beliau terlebih dahulu mencuci tangan, baru kemudian makan dan minum." (HR. Ahmad)
3) Saya membaca doa "Bismillāh", lalu makan dengan tangan kanan, mengambil makanan yang terdekat, serta tidak mengambil makanan dari tengah nampan atau dari arah depan orang lain.
Hal ini berdasarkan hadis: “Nak, bacalah bismillāh, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu!” (HR. Bukhari dan Muslim)
4) Bila saya lupa membaca basmalah, maka saya segera membaca doa:
"Bismillāhi awwalahu wa ākhirahu"
Artinya: "Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya."
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila salah seorang di antara kalian makan, hendaklah ia menyebut nama Allah Ta'ala. Jika ia lupa menyebut nama Allah Ta'ala di awal, maka hendaklah ia mengucapkan, 'Bismillāhi awwalahu wa ākhirahu' (dengan nama Allah di awal dan di akhirnya)." (HR. Tirmizi dan Ahmad)
5) Saya menerima makanan yang disuguhkan dan tidak mencelanya. Bila saya menyukainya maka saya memakannya, sebaliknya, bila saya tidak menyukainya, maka saya membiarkannya.
- Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, "Nabi ﷺ sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau tertarik, beliau menyantapnya. Namun, jika tidak, maka beliau membiarkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
6) Saya makan beberapa suap dan tidak makan terlalu banyak.
- Disebutkan dalam hadis: "Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus melebihi itu, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya." (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah)
7) Saya tiidak meniup makanan atau minuman yang panas. Namun, makanan atau minuman tersebut saya biarkan hingga dingin.
- Disebutkan dalam hadis: "Rasulullah ﷺ telah melarang meniup makanan dan minuman." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
8) Saya berkumpul bersama keluarga atau tamu ketika menyantap makanan.
Hal ini disebutkan dalam hadis tentang seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi ﷺ, "Kami makan, tetapi tidak bisa kenyang." Beliau bersabda, "Barangkali kalian makan sendiri-sendiri. Berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberi kalian keberkahan pada makanan tersebut." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
9) Saya tidak mulai mengambil makanan sebelum yang lebih tua mengambilnya.
10) Saya membaca basmalah ketika hendak minum, minum dalam keadaan duduk, dan dengan tiga kali tegukan, serta tidak bernapas di dalam bejana.
- Hal ini berdasarkan hadis: "Jika salah seorang kalian minum, janganlah ia bernapas dalam wadah minuman." (HR. Bukhari dan Muslim)
- Juga berdasarkan hadis Anas -raḍiyallāhu 'anhu-: "Nabi ﷺ melarang keras minum sambil berdiri." (HR. Muslim)
Demikian pula hadis: "Rasulullah ﷺ biasa bernapas tiga kali di luar minuman." (HR. Muslim)
11) Saya memuji Allah setelah selesai makan atau minum.
- Disebutkan dalam hadis: "Sesungguhnya Allah rida kepada seorang hamba ketika dia menyantap makanan lalu dia memuji Allah atas makanan itu, atau minum lalu dia memuji Allah atas minuman itu." (HR. Muslim)
Jawab:
1) Saya memakai pakaian mulai dari sebelah kanan, serta memuji Allah atas nikmat itu.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, Rasulullah ﷺ bersabda, "Apabila kalian memakai pakaian atau berwudu, maka mulailah dengan anggota badan bagian kanan!" (HR. Abu Daud dan Ahmad)
2- Saya tidak menjulurkan pakaian ke bawah mata kaki.
- Disebutkan dalam hadis: "Pakaian yang menutupi bawah kedua mata kaki, maka (pemiliknya) akan disiksa di neraka." (HR. Bukhari). Dua mata kaki ialah dua tulang yang menonjol di kedua sisi kaki.
3) Anak laki-laki tidak boleh memakai pakaian perempuan, begitu juga anak perempuan tidak boleh memakai pakaian anak laki-laki.
- Disebutkan dalam hadis: "Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki yang berpakaian layaknya cara berpakaian perempuan dan perempuan yang berpakaian layaknya cara berpakaian laki-laki." (HR. Abu Daud dan Ahmad)
4) Tidak meniru pakaian orang kafir atau fasik.
- Hal ini berdasarkan hadis: "Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka." (HR. Abu Daud)
5) Membaca bismillah ketika melepaskan pakaian.
- Disebutkan dalam hadis: "Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia saat seseorang di antara kalian menanggalkan pakaiannya ialah ia membaca: bismillāh." (HR. Ṭabarāniy dan Ibnu Abī Syaibah)
6) Mendahulukan kaki kanan ketika memakai sandal dan mendahulukan kaki kiri ketika melepasnya.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-: "Nabi ﷺ senang memulai dari kanan dalam mengenakan sandal, bersisir, bersuci, dan dalam segala urusannya." (HR. Bukhari)
Jawab:
1) Saya membaca:
Bismillāh. Alḥamdulillāh. "Subḥānalllażī sakh-khara lanā hāżā wa mā kunnā lahū muqrinīna. Wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn."
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah dan segala puji milik Allah. Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." [QS. Az-Zukhruf: 13-14]
2) Ketika melewati seorang muslim, saya mengucapkan salam kepadanya.
Jawab:
1) Saya berjalan dengan lurus dan tawaduk (rendah hati). Allah Ta'ala berfirman, "Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung." [QS. Al-Isrā`: 37]
2) Saya memberi salam kepada orang yang saya jumpai.
Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ, "Amalan apa yang terbaik dalam Islam?" Beliau menjawab, "Yaitu engkau memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal ataupun yang tidak engkau kenal." (HR. Bukhari dan Muslim)
3) Saya menundukkan pandangan dan tidak menyakiti siapa pun.
4) Saya mengajak kepada kebaikan dan melarang keburukan. Diriwayatkan di dalam hadis Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Berikanlah hak-hak jalan!" Para sahabat bertanya, "Apa hak jalan itu?" Beliau bersabda, "Menundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam, serta mengajak kepada yang baik dan melarang dari yang buruk." (HR. Bukhari dan Muslim)
5) Saya menyingkirkan gangguan dari jalan.
- Disebutkan dalam hadis: "Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jawab:
1) Saya keluar dengan mendahulukan kaki kiri sembari membaca doa: "Bismillāhi tawakkaltu 'alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Allāhumma innī a'ūżu bika an aḍilla aw uḍalla, aw azilla aw uzalla, aw aẓlima aw uẓlama, aw ajhala aw yujhala 'alayya."
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah. Aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, berbuat zalim atau dizalimi, dan berbuat yang jahil atau dijahili."
2) Saya masuk rumah dengan mendahulukan kaki kanan sembari membaca doa: "Bismillāhi walajnā wa bismillāhi kharajnā wa 'alā rabbinā tawakkalnā
(Dengan menyebut nama Allah kami masuk ke rumah, dengan menyebut nama Allah kami keluar darinya, dan kepada Tuhan kami, kami bertawakal."
3) Saya masuk rumah diawali dengan bersiwak, lalu mengucapkan salam kepada penghuni rumah.
- Disebutkan dalam hadis: "Ketika masuk rumah, Rasulullah ﷺ biasa memulai dengan bersiwak." (HR. Ibnu Majah)
Jawab:
1) Saya masuk dengan mendahulukan kaki kiri.
2) Sebelum masuk toilet, saya membaca doa: "Allāhumma innī a'użubika minal-khubuṡi wal-khabā`iṡ."
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan perempuan).
3) Saya tidak masuk dengan membawa sesuatu yang mengandung penyebutan nama Allah.
Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: "Dahulu Nabi ﷺ, apabila masuk ke tempat buang hajat, beliau meletakkan cincinnya." (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
4) Saya menutupi diri dari pandangan manusia ketika hendak buang hajat.
- Disebutkan dalam hadis: "Rasulullah ﷺ senang menjadikan gundukan tanah atau kebun kurma untuk menutupi dirinya saat buang hajat." (HR. Muslim)
5) Tidak berbicara di dalam tempat buang hajat.
6) Saya tidak menghadap maupun membelakangi kiblat saat kencing atau buang air besar.
- Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ: "Janganlah kalian menghadap kiblat maupun membelakanginya saat buang air besar maupun kencing, tetapi menghadaplah ke arah timur atau barat." (HR. Bukhari dan Muslim)
7) Saya menggunakan tangan kiri untuk menghilangkan najis, dan tidak menggunakan tangan kanan.
- Hal ini berdasarkan hadis: "Sungguh, beliau melarang kami ... melakukan istinja menggunakan tangan kanan." (HR. Muslim)
8) Saya tidak melakukan buang hajat di jalan atau tempat berteduh orang.
Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Hindarilah dua hal penyebab laknat!" Para sahabat bertanya, "Apa dua penyebab laknat itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Seseorang yang buang hajat di jalan atau tempat berteduh orang." (HR. Muslim)
9) Saya mencuci tangan setelah buang hajat. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Jarīr bin Abdillah -raḍiyallāhu 'anhu-: Aku pernah bersama Nabi ﷺ, lalu beliau pergi ke tempat buang hajat untuk buang hajat, kemudian beliau berkata, "Wahai Jarīr, bawakan saya alat bersuci." Lalu saya membawakan air untuk beliau dan beliau beristinja dengan air itu. Setelahnya, beliau menggosokkan tangan di tanah." (HR. Nasai)
10) Saya keluar dengan mendahulukan kaki kiri sembari membaca doa: "Gufrānaka" (Aku memohon ampun kepada-Mu).
Jawab:
1) Saya masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan sembari membaca doa: "Bismillāhi allāhummaftaḥ lī abwāba raḥmatika"
(Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, bukakanlah pintu rahmat-Mu untukku).
2) Saya tidak duduk sebelum mengerjakan salat sunah dua rakaat (tahiyat masjid).
- Hal ini berdasarkan hadis: "Bila salah seorang kalian masuk masjid, maka janganlah dia duduk kecuali setelah mengerjakan salat dua rakaat." (HR. Bukhari dan Muslim)
3) Saya tidak melintas di depan orang yang sedang salat, serta tidak mengumumkan barang hilang atau melakukan jual beli di dalam masjid. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sekiranya orang yang melintas di depan orang salat mengetahui apa akibat yang akan ia tanggung, niscaya ia berdiri menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada melintas di depan orang yang sedang salat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Juga berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ: "Siapa yang mendengar seseorang mengumumkan barang hilang di masjid, hendaklah dia mengucapkan, 'Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu', karena masjid tidak dibangun untuk hal seperti itu." (HR. Muslim)
Demikian pula disebutkan dalam hadis: "Apabila kalian melihat orang berjualan atau berbelanja di masjid, maka katakanlah, 'Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada perniagaanmu.'" (HR. Tirmizi dan ad-Dārimiy)
4) Saya menjaga kebersihan masjid.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- meriwayatkan: "Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung, serta agar dibersihkan dan diberikan wewangian." (HR. Tirmizi, Abu Daud, dan Ahmad)
4) Saya keluar dari masjid dengan mendahulukan kaki kiri sembari membaca doa: "Allāhumma innī as`aluka min faḍlika"
(Ya Allah, aku meminta karunia-Mu).
Jawab:
1) Ketika bertemu dengan seorang muslim, saya mengawali dengan mengucapkan salam, yaitu dengan ucapan: "Assalāmu 'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuhu". Tidak boleh diawali dengan ungkapan selain salam dan saya tidak pula hanya memberi isyarat dengan tangan saja.
2) Memberi senyum di hadapan orang yang disalami. Disebutkan dalam hadis: "Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri!" (HR. Muslim)
3) Saya menjabat tangannya menggunakan tangan kanan.
4) Ketika seseorang mengucapkan salam, saya membalas salamnya dengan ungkapan salam yang lebih sempurna atau minimal dengan yang semisalnya.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala, "Apabila kamu diberi salam dengan suatu salam, maka balaslah dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang sepadan. Sungguh, Allah Maha Menghitung segala sesuatu." [QS. An-Nisā`: 86]
5) Saya tidak mengucapkan salam terlebih dahulu kepada orang kafir, namun bila ia memberi salam, maka saya hanya menjawab dengan: "Wa'alaikum".
- Hal ini berdasarkan hadis: "Janganlah kalian memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani." (HR. Muslim)
6) Anak kecil memberi salam kepada yang tua, yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki memberi salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit memberi salam kepada yang banyak. Rasulullah ﷺ bersabda, "Hendaklah yang berkendara mengucapkan salam kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada yang duduk, dan yang berjumlah sedikit mengucapkan salam kepada yang berjumlah banyak." (HR. Bukhari dan Muslim)
7) Tidak menjabat tangan perempuan yang bukan mahram.
Ummul Mukminin Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Tidak, demi Allah. Tangan Rasulullah ﷺ tidak pernah menyentuh tangan seorang perempuan pun." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jawab:
1) Saya meminta izin sebelum masuk ke sebuah tempat.
2) Saya meminta izin sebanyak tiga kali, tidak lebih dari itu. Jika setelah itu tetap tidak ada yang menjawab, saya segera balik.
Disebutkan dalam hadis: "Jika salah seorang kalian telah meminta izin tiga kali namun tetap tidak diizinkan, maka hendaklah dia balik." (HR. Bukhari dan Muslim)
3) Saya mengetuk pintu dengan lembut dan tidak berdiri tepat depan pintu, namun di sebelah kanan atau kiri pintu. Hal ini berdasarkan hadis: "Apabila Rasulullah ﷺ datang ke pintu sebagian orang, beliau tidak menghadap ke pintu tepat di hadapannya, tetapi beliau berdiri di sisi kanan atau kiri, seraya mengucapkan, 'As-Salāmu 'alaikum, as-salāmu 'alaikum.'" (HR. Abu Daud)
4) Saya tidak masuk ke kamar ayah atau ibu, maupun kamar lainnya, sebelum meminta izin, terutama sebelum Subuh, waktu qailūlah (istirahat siang) di waktu Zuhur, dan setelah salat Isya.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Wahai orang-orang beriman, hendaklah hamba sahaya (laki-laki dan perempuan) yang kamu miliki dan orang-orang yang belum balig di antara kamu meminta izin kepada kamu pada tiga kali (kesempatan), yaitu sebelum salat Subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian luarmu di tengah hari, dan setelah salat Isya. (Itulah) tiga aurat (waktu) bagi kamu. Tidak ada dosa bagimu dan tidak pula bagi mereka selain dari (tiga waktu) itu, mereka keluar masuk melayani kamu, sebagian kamu atas sebagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat itu kepadamu dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." [QS. An-Nūr: 58]
5) Saya boleh masuk ke tempat-tempat yang tidak ditinggali, seperti klinik atau toko, tanpa meminta izin.
Allah Ta'ala berfirman, "Tidak ada dosa atas kalian memasuki rumah yang tidak dihuni yang di dalamnya ada keperluan kalian. Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kalian sembunyikan." [QS. An-Nūr: 29]
Jawab:
1) Saya memberi makan dan minum kepada hewan.
Disebutkan dalam hadis: Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita mendapatkan pahala dalam berbuat baik pada binatang?" Beliau menjawab, "Pada setiap makhluk hidup terdapat pahala." (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah ﷺ pernah melewati seekor unta yang punggungnya telah menempel ke perutnya (karena sangat kurus), lalu beliau bersabda, "Takutlah kepada Allah dalam (memperlakukan) hewan-hewan ini." (HR. Abu Daud)
2) Bersikap kasih sayang dan tidak membebaninya lebih dari kemampuannya.
Dalam hadis disebutkan: Rasulullah ﷺ bertanya, "Siapakah pemilik unta ini? Milik siapa unta ini?" Lantas seorang pemuda Ansar datang dan berkata, "Milikku, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Tidakkah engkau takut kepada Allah dalam memperlakukan hewan yang Allah berikan kepadamu ini? Sungguh, ia telah mengadu kepadaku bahwa engkau membiarkannya kelaparan dan membebaninya lebih dari kemampuannya." (HR. Abu Daud dan Ahmad). Makna "membebaninya (tud`ibuhu)" adalah membuatnya kelelahan.
3) Saya tidak menyiksa dan menyakiti hewan dengan cara apa pun.
Dalam hadis riwayat Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- disebutkan: Nabi ﷺ dilewati oleh keledai yang telah diberi tanda menggunakan besi panas di mukanya. Beliau bersabda, "Belumkah sampai kepada kalian bahwa aku telah melaknat orang yang memberi tanda hewan di mukanya -atau: memukulnya di muka? " Beliau melarang hal tersebut. (HR. Muslim dan Abu Daud, dan redaksi ini milik Abu Daud)
Jawab:
1) Saya meniatkan berolahraga supaya kuat menjalankan ketaatan kepada Allah serta meraih rida-Nya.
2) Kami tidak bermain di waktu salat.
- Allah Ta'ala berfirman, "Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya." [QS. Al-Mā'ūn: 4-5]
3) Anak laki-laki tidak melakukan aktivitas olahraga bersama anak perempuan.
4) Saya memakai pakaian olahraga yang menutup aurat.
5) Saya menjauhi olahraga yang diharamkan, semisal olahraga yang mengandung pukulan di wajah atau menampakkan aurat.
Disebutkan dalam hadis: "Apabila salah seorang kalian memukul saudaranya, hendaklah ia menghindari wajah." (HR. Muslim)
Jawab:
1) Berkata jujur dalam bercanda, tidak berbohong.
Disebutkan dalam hadis: “Celakalah orang yang berbicara lalu berbohong untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud, Ahmad, dan Tirmizi)
2) Canda harus bersih dari olokan, hinaan, menyakiti, dan menakut-nakuti.
Nabi ﷺ bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain." (HR. Abu Daud dan Ahmad)
3) Tidak berlebihan dalam bercanda.
Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati." (HR. Tirmizi dan Ibnu Majah)
Jawab:
1) Menutup mulut dengan tangan, pakaian atau tisu ketika bersin.
2) Memuji Allah setelah bersin dengan mengucapkan doa: "Alḥamdulillāh".
3) Kemudian saudaranya atau kawannya menjawabnya dengan ungkapan: "Yarḥamukallāh" (Semoga Allah merahmatimu).
Bila saudaranya telah mendoakannya, hendaklah ia mengucapkan: "Yahdīkumullāhu wa yuṣlihu bālakum" (Semoga Allah membimbing dan memperbaiki keadaanmu).
Jawab:
1) Berusaha menahan ketika ingin menguap.
Disebutkan dalam hadis: "Menguap itu berasal dari setan. Jika salah seorang dari kalian ingin menguap, hendaklah ia menahannya sebisa mungkin." (HR. Bukhari dan Muslim)
2) Tidak meninggikan suara dengan ucapan: "ah ah".
Disebutkan dalam hadis: "Janganlah ia mengatakan, 'Ah ah'. Jika salah seorang kalian membuka mulutnya, maka setan akan masuk." (HR. Ahmad)
3) Menutup mulut dengan tangan.
Disebutkan dalam hadis: "Jika salah seorang kalian menguap, hendaklah dia menahannya dengan meletakkan tangan pada mulutnya karena setan akan masuk." (HR. Muslim)
Jawab:
1) Membaca Al-Qur`an dalam keadaan suci dengan berwudu terlebih dahulu.
2) Duduk dengan sopan dan menjaga wibawa.
3) Memohon perlindungan kepada Allah dari gangguan setan di awal membaca Al-Qur`an.
Allah Ta'ala berfirman, "Apabila kamu hendak membaca Al-Qur`an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." [QS. An-Naḥl: 98]
4) Menadaburi bacaan.
Allah Ta'ala berfirman, "Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur`an, ataukah hati mereka sudah terkunci?" [QS. Muḥammad: 24]
*******
Jawab:
1) Mengawali doa dengan pujian kepada Allah.
2) Dilanjutkan dengan membaca selawat kepada Nabi ﷺ.
Diriwayatkan di dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda, "Jika engkau telah selesai salat lalu duduk, maka pujilah Allah dengan pujian milik-Nya dan bacalah selawat kepadaku, kemudian berdoalah kepada Allah." (HR. Tirmizi)
3) Mengangkat kedua tangan saat berdoa.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Tuhan kalian -Tabāraka wa Ta'ālā- Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya jika sudah mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk mengembalikannya dalam keadaan kosong." (HR. Tirmizi dan Abu Daud)
4) Bertobat dan mengakui dosa.
Disebutkan dalam doa Nabi Musa -'alaihissalām-: "Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.' Lalu Allah mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Qaṣaṣ: 16]
5) Terus-menerus berdoa dan mengulang-ulanginya.
6) Tidak terburu-buru ingin mendapatkan pengabulan.
7) Tidak berdoa meminta sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi.
Disebutkan dalam hadis: "Doa seorang hamba senantiasa akan dikabulkan selama dia tidak berdoa yang mengandung dosa atau pemutusan silaturahmi dan selama dia tidak terburu-buru." Ada yang bertanya, "Wahai Rasulullah, seperti apa terburu-buru itu?" Beliau bersabda, "Dia mengatakan, 'Aku telah berdoa. Aku telah berdoa. Namun aku belum merasa Dia mengabulkannya untukku.' Lalu dia merasa putus asa dan berhenti berdoa." (HR. Bukhari dan Muslim)
8) Merendahkan suara dalam berdoa.
Allah Ta'ala berfirman, "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut." [QS. Al-A'rāf: 55]
9) Kehadiran hati saat berdoa.
Disebutkan dalam hadis: "Berdoalah kepada Allah dengan penuh yakin doamu akan dikabulkan. Ketahuilah, Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan alpa." (HR. Tirmizi)
10) Ikhlas kepada Allah Ta'ala serta berdoa kepada-Nya semata di saat sulit dan lapang.
Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah." [QS. Al-Jinn: 18]
11) Bertawasul kepada Allah di dalam doa dengan nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya.
Allah Ta'ala berfirman, "Hanya milik Allah al-asmā` al-husnā (nama-nama yang terbaik), maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu." [QS. Al-A'rāf: 180]
12) Menghadap kiblat. Disebutkan dalam hadis: "Beliau terus-menerus memanggil Tuhannya dengan mengangkat kedua tangannya dan menghadap kiblat hingga selendangnya jatuh dari kedua pundaknya." (HR. Muslim)
13) Menjaga makanan dan pakaian yang halal lagi baik. Disebutkan dalam hadis: Kemudian beliau menyebutkan, "Ada seorang laki-laki yang mengadakan perjalanan jauh dalam keadaan kusut dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit (sembari berkata), 'Ya Rabb! ya Rabb!' sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia dikenyangkan dengan yang haram, lalu bagaimana bisa doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim)